Tokoh yang Baik atau yang Buruk

0
22

Semua orang pasti ingin terhindar dari segala yang tidak menyenangkan, di dunia apalagi di akhirat kelak. Namun tidak semua orang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengetahui cara menghindarkan diri atau menyelamatnya. Akhirnya, ia memilih untuk mengikuti orang yang dipandang bisa menuntunnya. Di sini, saat seseorang menentukan panutan dia harus berhati-hati agar tidak menyesal akhirnya. Karena panutan atau orang yang ditokohkan itu, ada yang memang layak untuk itu tapi ada juga tidak. Orang yang memiliki kriteria sebagai ‘alim rabbaniy itulah seharusnya yang dipilih. Mereka penutan yang membimbing manusia meniti jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan tentang ‘alim rabbaniy, syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di t mengatakan, “Mereka adalah para Ulama’ yang bijaksana, yang sabar, yang mengajarkan dan mendidik masyarakat (yang mengawali pengajaran mereka) dengan ilmu-ilmu yang sederhana sebelum yang tinggi dan Ulama yang menpraktekkan ilmu. Mereka menyuruh masyarakat agar berilmu, beramal dan mengajarkan ilmu yang ketiga hal ini merupakan poros kebahagiaan.” (Tafsir Taisîr al-Karîm ar-Rahman tentang Surat Ali Imran ayat ke-79).

Selektif dalam menentukan panutan ini sangat diperlukan, karena faktanya tidak semua orang yang menjadi panutan itu berilmu. Seandainya berilmu, belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Apalagi dalam al-Qur’an dengan gamblang disebutkan tentang keberadaan tokoh-tokoh yang mengajak manusia masuk ke neraka dan tokoh-tokoh yang mengajak ke surga.
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman tentang fir’aun dan para tokoh disekitarnya:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ

alam ayat lain, Allâh Subhana wa Ta’ala juga berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Shahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas ﷺ mengatakan, “Allâh ﷻ menjadikan imam (pemimpin) bagi manusia di dunia ini yang mengajak manusia kepada kesesatan atau petunjuk kebaikan.” Kemudian beliau  membaca dua ayat tersebut di atas. (Dinukil oleh Imam al-Baghawi dalam tafsir beliau, 5/109)

Keberadaan para tokoh atau panutan yang mengajak kepada keburukan ini tentu sangat membahayakan. Dengan kelihaian lidahnya, dia bisa menggambarkan yang buruk menjadi seakan baik. Semoga Allah ﷻ melindungi kita semua dari mereka dan keburukan mereka.

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Tsauban radhiallohu’anhu bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْ

Sesungguhnya yang saya khawatirkan (akan merusak) umatku hanyalah para imam (tokoh) yang menyeru kepada kesesatan“. (HSR. Abu Dawud, no. 4252 dan at-Tirmidzi, 4/504. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh berkata, “(Mereka) adalah para pemimpin, tokoh agama dan ahli ibadah yang mengarahkan manusia tanpa ilmu (pemahaman agama yang benar), sehingga mereka menyesatkan manusia, sebagaimana dalam firman Allâh ﷻ :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Dan mereka (orang-orang yang sesat) berkata, “Ya Rabb Kami (Allâh ﷻ)! Sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) (QS. Al-Ahzâb/33:67) (Kitab Fat-hul Majîd Syarhu Kitâbit Tauhîd, hlm. 323)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah ﷻ agar senantiasa membimbing kita meniti jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat serta menjauhkan kita dari jalan kesesatan yang berujung penderitaan yang sangat menyakitkan.