Tafsir surat Adh Dhuha

0
210

وَالضُّحَىٰ (١) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (٢) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (٣) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ (٤) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (٥) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (٦) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ (٧) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (٨) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (٩) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (١٠) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (١١)

1. Demi dhuha (waktu matahari naik menerangi cahayanya).
2. Dan demi malam apabila telah sunyi.
3. Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.
4. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.
5. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? 8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan? 9. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang!
10. Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya!
11. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Surat yang mulia ini adalah makkiyah.[1] Berkaitan dengan asbab nuzul (sebab turunnya) surat ini, ada beberapa riwayat atau hadits yang shahih, di antaranya hadits Jundub bin Abdillah bin Sufyan al Bajali ؓ , ia berkata :

Jibril tertahan (tidak kunjung datang) kepada Nabi ﷺ , lalu berkata seorang wanita[2] dari Quraisy : “Setannya terlambat datang kepadanya,”

maka turunlah :

وَالضُّحَىٰ (١) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (٢) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (٣)

(Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu).[3]

Pada riwayat yang lain dengan sedikit perbedaan lafazh, Jundub bin Abdillah al Bajali ؓ  berkata:

Rasulullah ﷺ sakit dan tika keluar selama duaatau tiga malam. Lalu datang seorang wanita, dan berkata: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya aku sangat berharap agar setanmu benar-benar telah meninggalkanmu. Aku tidak melihatnya selama dua atau tiga malam,” maka Allah turunkan …” (surat adh Dhuha).[4]

Ada juga beberapa riwayat dan hadits lainnya yang berkaitan dengan (sebab turunnya) surat ini, namun seluruhnya berkisar antara dha’if (lemah), dha’ifun jiddan (lemah sekali), dan munkar (menyelisihi riwayat yang shahih).[5]

Pada ayat pertama surat adh Dhuha ini, Allah bersumpah dengan waktu dhuha. Yaitu waktu ketika menjelang siang, saat matahari mulai naik dan menerangi dengan cahayanya. Dan di ayat yang kedua, Allah bersumpah dengan waktu malam yang tenang, sunyi dan gelap gulita.[6]

Ayat ketiga pada surat ini, merupakan jawaban dari sumpahNya terhadap hal-hal yang disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Yang maknanya ialah, Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ dan tidak (pula) membencinya sejak Allah mencintainya. Bahkan Allah tetap bersamanya, membimbingnya, dan meninggikan derajatnya setingkat demi setingkat. Hal ini menunjukkan, bahwa keadaan Rasulullah ﷺ , dari dahulu sampai pada saat turunnya ayat ini, beliau ﷺ berada dalam keadaan yang sangat baik dan sempurna. Allah senantiasa mencintai dan membimbingnya. Sehingga, ayat ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan wanita musyrik tersebut yang berprasangka bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah ditinggalkan dan dibenci Allah.[7]

Pada ayat berikutnya,Allah menerangkan bahwa keadaan Rasulullah ﷺ pada masa yang akan datang akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga, Rasulullah ﷺ akan terus selalu mendapatkan bimbingan Allah, hingga beliau benar-benar mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya. Allah akan senantiasa membelanya, memenangkan agamaNya di atas musuh- musuhnya, senantiasa membimbingnya hingga beliau wafat. Dan sungguh, Nabi ﷺ telah mencapai derajat tersebut. Yaitu sebuah derajat yang tidak akan pernah dicapai oleh siapapun dari orang-orang terdahulu sebelum beliau n dan orang-orang yang datang sepeninggal beliau, berupa keutamaan-keutamaan dan kenikmatan- kenikmatan yang begitu banyak dari sisi Allah.[8]

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata,”Maksud ayat ini adalah, akhirat lebih baik bagimu (wahai Muhammad) daripada dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling zuhud (merasa cukup dan tidak terlalu membutuhkan, Pen) di dunia ini. Beliau adalah orang yang paling jauh dari keduniaan, sebagaimana telah diketahui dari seputar sejarah hidup beliau. Tatkala beliau ﷺ diberikan pilihan (oleh Allah) pada akhir usia beliau, (yakni pilihan) antara tetap hidup kekal di dunia ini yang akhirnya mengantarkan beliau ke surga, dan (pilihan berupa) segera pergi menuju Allah, beliaupun memilih apa yang ada di sisi Allah, daripada kehidupan di dunia ini”.[9]

Kemudian al Hafizh Ibnu Katsir membawakan hadits Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

Rasulullah ﷺ bangun, sedangkan di tubuh beliau terdapat bekas tikar, kamipun berkata: “Wahai, Rasulullah. Seandainya (tadi) kami siapkan untukmu alas pelapis (tikar),” beliaupun bersabda : “Apalah (artinya) untukku semua yang ada di dunia ini? Tidaklah diriku berada di dunia ini, melainkan bagai pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya?”[10]

Berkaitan dengan penjelasan al Hafizh Ibnu Katsir di atas, juga ada sebuah hadits shahih dari ‘Aisyah, ia berkata :

Nabi ﷺ pernah bersabda tatkala masih dalam keadaan sehat : “Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun yang diwafatkan (oleh Allah) hingga ia melihat tempatnya di surga, kemudian ia diberi pilihan,” maka tatkala beliau sakit dan kepalanya berada di atas pahaku, beliau pingsan sejenak, kemudian beliau sadarkan diri dan membelalakkan matanya ke langit-langit, kemudian berkata: “Ya, Allah. (Aku memilih derajat di sisiMu) Yang Maha Tinggi”, aku berkata: “Kalau begitu, beliau tidak lagi memilih kami. Akupun mengetahui bahwa itu adalah hadits yang dahulu pernah beliau sampaikan kepada kami. Itulah kata terakhir yang beliau ucapkan, yaitu: “Ya, Allah. (Aku memilih derajat di sisiMu) Yang Maha Tinggi”.[11]

Kemudian Allah berfirman pada ayat yang ke lima :

وَلَ وْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (٥)

“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan dan menegaskan kembali bahwa Nabi Muhammad ﷺ akan diberi karunia dan pemberianNya sampai beliau ridha.

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata,”Ayat ini merupakan sebuah ungkapan (atas karunia dan pemberian Allah kepada Rasulullah ﷺ), yang tidak mungkin ada ungkapan lainnya yang lebih umum dan gamblang dari ungkapan ini.”[12]

Berkenaan dengan ayat ini, terdapat sebuah riwayat dari Ali bin Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya (Abdullah bin ‘Abbas), ia berkata:

Rasulullah ﷺ diperlihatkan hal-hal yang akan dibukakan (oleh Allah) untuk umatnya sepeninggalnya. Beliaupun merasa gembira dengannya, maka Allah turunkan:

وَالضُّحَىٰ (١) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (٢)

(Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi), sampai firmanNya:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (٥)

(Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas).

Ia (Abdullah bin ‘Abbas) berkata: “Maka Allah pun memberinya seribu istana yang terbuat dari mutiara di surga. Tanahnya adalah misik (minyak wangi). Dan di setiap istana tersebut (tersedia) apa-apa yang sudah selayaknya untuknya”.[13]

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata,”(Hadits ini) diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (ath Thabari) dari jalannya. Dan sanad (hadits ini) shahih sampai Ibnu ‘Abbas. Dan perkara seperti ini tidak mungkin dikatakan, kecuali dengan persaksian (pembenaran) (Rasulullah).” [14]

Ada juga hadits shahih lainnya yang berkaitan dengan ayat ini, yaitu hadits Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ia berkata:

Nabi ﷺ membaca firman Allah (atas lisan) Ibrahim :

 رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ … (٣٦)

(Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku –QS Ibrahim ayat 36-). Dan berkata ‘Isa:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١١٨)

(Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana -QS al Maidah ayat 118-).

Lalu beliau (Rasulullah ﷺ ) mengangkat ke dua tangannya dan berkata: “Ya Allah, umatku…umatku,” dan menangis. Maka Allah berkata: “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad, dan Rabb-mu lebih mengetahui. Dan tanyalah (kepadanya), apa yang membuatmu menangis?” Lalu Jibril pun mendatanginya dan bertanya kepadanya. Rasulullah ﷺ memberitahukannya, dan Allah lebih mengetahuinya, kemudian Allah berkata: “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad, dan katakan, “Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha dan (Kami) tidak akan berbuat buruk kepadamu.”[15]


 

[1]. Lihat Tafsir ath Thabari (30/277), al Jami’ li Ahkam al Qur‘an (20/82), Tafsir al Qur‘an al ‘Azhim (8/423), ad Durr al Mantsur (8/ 539), Taisir al Karim ar Rahman (2/1176). Dan al Imam al Qurthubi di dalam tafsirnya (20/82) berkata: “(Surat ini) makkiyah menurut kesepakatan (ulama)”. Lihat pula al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520).
[2]. Ia adalah Ummu Jamil al ‘Auraa’ binti Harb bin Umayah bin Abdisyams bin Abdi ’Manaf, saudari kandung Abu Sufyan bin Harb, istri Abu Lahab. Lihat Fathul Bari (3/8) dan penjelasan muhaqqiq kitab al Jami’ li Ahkam al Qur`an, Abdurrazzaq al Mahdi (20/83).
[3]. HR al Bukhari (1/378 no. 1073, 4/1892 no. 4667, 4/1906 no. 4698), Muslim (3/1421-1422 no. 1797), dan lain-lain. Lihat pula ash Shahih al Musnad min Asbab an Nuzul, hlm 267 dan al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520).
[4]. Lihat footnote sebelumnya.
[5]. Lihat al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520-526).
[6]. Lihat Tafsir ath Thabari (30/277), al Jami’ li Ahkam al Qur’an (20/82), Tafsir al Qur‘an al ‘Azhim (8/425), ad Durr al Mantsur (8/541), Adhwa’ al Bayan (8/536 dan 554), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/1176).
[7]. Lihat footnote sebelumnya. Lihat pula al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520-521).
[8]. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/1176).
[9]. Lihat Tafsir al Qur‘an al ‘Azhim (8/425).
[10]. HR at Tirmidzi (4/588 no. 2377), Ibnu Majah (2/1376 no. 4109), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t di dalam Shahih at Tirmidzi, Shahih Ibnu Majah, Shahih al Jami’ (5668), as Silsilah ash Shahihah (1/800), dan kitab-kitab beliau lainnya.
[11]. HR al Bukhari (5/2387 no. 5144, 5/2337 no. 5988, 4/1620 no. 4194, 4/1613 no. 4173), Muslim (4/1894 no. 2444), dan lain-lain.
[12]. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/1177).
[13]. HR ath Thabari di dalam tafsirnya (30/281), al Hakim di dalam al Mustadrak (2/573), dan lain-lain. Al Hakim berkata: “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh al Bukhari dan Muslim”. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t di dalam as Silsilah ash Shahihah (6/687). Dan dishahihkan pula oleh asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali dan asy Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr di dalam kitab mereka al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/521-522). Demikian pula asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’I t di dalam kitabnya ash Shahih al Musnad min Asbab an Nuzul, hlm 267-268.
[14]. Lihat Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/426).
[15]. HR Muslim (1/191 no 202), dan lain-lain. Lihat pula al Jami’ li Ahkam al Qur‘an (20/86-87).

Edisi 02 Tahun  X  1427H – 2006M