Shaf Diantara Tiang

0
465

SOAL :

Ana ingin menanyakan hukum tentang shaf shalat di antara dua tiang. Mohon penjelasannya. Jazakumullah.

0812496xxxx

JAWAB :

Makmum dilarang membuat shaf (barisan) di dalam shalat jama’ah di antara dua tiang. Larangan ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini :

Dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari bapaknya, dia berkata: “Kami dahulu, pada zaman Rasulullah ﷺ , dilarang membuat shaf di antara tiang-tiang, dan kami dijauhkan dari tiang-tiang itu”.[1]

Para sahabat nabi juga mentaati hal ini, sebagaimana disebutkan dalam riwayat :

Dari Abdul Hamid bin Mahmud, dia berkata: “Kami dahulu bersama Anas bin Malik, lalu kami melakukan shalat di belakang seorang gubernur. Lalu mereka (makmum) mendorong kami sehingga kami berdiri dan shalat di antara dua tiang. Maka Anas mulai mundur dan mengatakan (yakni setelah selesai shalat, Red),‘Kami dahulu pada zaman Rasulullah ﷺ menjauhui ini (yakni shalat di antara dua tiang)’.”[2]

Setelah membawakan hadits ini Imam Tirmidzi berkata : “Sebagian kalangan ulama membenci dibuatnya shaf di antara tiang- tiang. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Ishaq. Namun sebagian ulama memberikan keringanan tentang hal itu”. (Sunan Tirmidzi, hadits no. 229).

Yang kuat adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil di atas. Adapun jika terpaksa, seperti karena sempitnya tempat, maka tidak mengapa. Demikian juga imam atau orang yang shalat sendirian, ia boleh shalat di antara dua tiang. Karena hikmah larangan itu adalah agar tidak memutuskan shaf. Wallahu a’lam.

Imam Abu Dawud berkata: “Aku mendengar (Imam) Ahmad ditanya tentang shalat di antara tiang-tiang, beliau menjawab,’Sesungguhnya dibencinya itu karena memutuskan shaf. Jika shaf jauh di antara dua tiang, maka berharap (tidak mengapa, Red)’.”[3]

Ketika menjelaskan tempat-tempat yang dilarang untuk melakukan shalat padanya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani t berkata: “Tempat antara tiang-tiang, para makmum membuat shaf padanya”. (Tsamar Mustathab, hlm. 409).


 

[1]. HR Ibnu Majah, no. 1002; Ibnu Khuzaimah, no. 1567; Ibnu Hibban, no. 2219; al Hakim 1/218. Dihasankan oleh Syaikh al Albani di dalam Tsamar Mustathab, hlm. 410; Silsilah ash Shahihah, no. 335; dan lain-lain.
[2]. HR Abu Dawud, no. 673; Tirmidzi, no. 229; Ahmad 3/131; al Hakim 1/210, 218; an Nasa-i 2/93, dan ini lafazh Imam Nasa-i. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Tsamar Mustathab, hlm. 410; juga sebelumnya oleh al Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 1/458.
[3]. Masail Abu Dawud, hlm. 47, dinukil dari Tsamar Mustathab, hlm. 413.

Edisi 04 Tahun  X  1427H – 2006M