Metode Al-Qur’an dalam menyeru kaum mukminin kepada hukum-hukum syariat

0
343

Allah telah memerintahkan untuk berdakwah di jalan-Nya dengan cara paling baik yang mengantarkan kepada maksud dan tujuan yang diharapkan.Tidak diragukan lagi, bahwa metode Allah dalam hal ini adalah yang paling baik dan paling tepat.

  1. Sering kali Allah menyeru kaum Mukminin untuk melakukan kebaikan atau melarang dari keburukan dengan menggunakan gelar iman yang Allah anugerahkan kepada mereka. Misalnya, Allah berfirman,” Wahai orang-orang yang beriman, lakukanlah hal ini atau tinggalkanlah perkara ini…”
    Seruan gaya ini berisi dua seruan sekaligus yaitu :
    Pertama : seruan agar mereka melaksanakan apa yang menjadi konsekuensi keimanan, syarat-syarat dan hal-hal yang dapat menyempurnakan keimanan mereka, berupa seluruh syariat agama. Oleh karena itu itu para ulama salaf sepakat bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang dan seluruh syari’at agama ini merupakan bagian dari iman. Salah satu buktinya yaitu Allah memulai perintah-Nya kepada kaum Mukminin dengan mengggunakan kata-kata iman. Misalnya, ‘Wahai orang-orang yang beriman…‘.
    Kedua : seruan agar mereka mensyukuri karunia keimanan yang Allah anugerahkan, dengan menjelaskan cara bersyukur secara terperinci yaitu tunduk secara mutlak terhadap segala perintah dan larangan-Nya.
  2. Terkadang Allah menyeru kaum Mukminin kepada kebaikan dan melarang mereka dari keburukan dengan menjelaskan pengaruh dan balasan di dunia maupun di akherat bagi perbuatan mereka.
  3. Terkadang Allah menyeru kaum Mukminin dengan menyebutkan karunia-Nya yang bermacam-macam, yang menuntut mereka untuk bersyukur dengan cara melaksanakan konsekuensi keimanan.
  4. Terkadang Allah menyeru kaum Mukminin dengan memberikan dorongan ataupun ancaman, dengan menyebutkan apa yang Allah sediakan bagi kaum Mukminin yang taat yaitu ganjaran; dan bagi selain mereka berupa hukuman.
  5. Terkadang Allah menyeru kaum Mukminin dengan menyebutkan nama-nama Allah yang indah (asmâul husnâ), dan hak-hak Allah yang agung atas hamba-Nya. Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah agar mereka menegakkan peribadatan kepada-Nya secara lahir maupun batin, beribadah dan berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang suci.
  6. Terkadang Allah menyeru kaum Mukminin semata-mata agar mereka menjadikan-Nya sebagai wali, tempat berlindung, tempat menyerahkan segala urusan dan menjadikan-Nya tempat kembali. Inilah sumber kebahagiaan dan kesuksesan hamba. Sekiranya mereka tidak menjadikan Allah sebagai tempat berlindung, mereka akan dikuasai oleh setan yang memberikan angan-angan semu dan tipu muslihat, sehingga lenyaplah berbagai kebaikan dari mereka serta akan menjerumuskan ke lembah kebinasaan.
  7. Terkadang Allah mendorong kaum Mukminin kepada kebaikan dan memperingatkan mereka agar tidak bertasyabuh dengan orang-orang yang lalai, enggan dan penganut agama selain Islam, agar kaum Mukminin tidak tertimpa celaan atau lainnya yang menimpa orang-orang itu. Sebagaimana firman-Nya.

فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٩٥)

Nanti kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Qs Yûnus :95)

فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)

Sehingga engkau termasuk orang-orang yang zhalim. (Qs al-An’am :52)

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦)

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (Qs al Hadid :16)

Edisi 01 Tahun  XIII  1430H – 2009M