Menyoal cara turun sujud

0
238

Bagaimana cara turun menuju sujud? Apakah dengan dua tangan atau dua lutut terlebih dahulu? Dan bagaimana cara duduk dalam sholat yang berjumlah dua rakaat, apakah dengan duduk iftirâsy ataukan duduk tawarruk?

JAWAB :

Tentang tata cara turun menuju sujud (al Burûk) haditsnya sudah jelas. Rasulullah ﷺ bersabda:

Jika salah seorang dari kalian akan bersujud, janganlah turun layaknya perilaku onta. Hendaknya ia meletakkan dua tangannya terlebih dahulu, baru kemudian dua lutut kakinya”. (HR. Ahmad).

Ada hadits lain dari Wâil bin Hujr :

“Aku menyaksikan Rasulullah ﷺ ketika sujud, meletakkan dua lututnya terlebih dahulu sebelum dua tangannya”. (HR. an Nasâ`i).

Hadits terakhir ini, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarîk bin ‘Abdillah an Nakha’i, ia lemah hafalannya.

Sementara itu, al Bukhari meriwayatkan sebuah hadits mu’allaq dalam ash Shahîh dari Ibnu ‘Umar : “Dahulu beliau meletakkan dua tangannya, kemudian baru dua lututnya”. al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam kitab Syarh Ma’anil Atsar karya ath-Thahawi, Ibnu ‘Umar c berkata: “Aku menyaksikan Rasulullah ﷺ berbuat demikian (meletakkan dua tangan terlebih dahulu, pent)”.

Dalam masalah ini, sejak awal Ibnul Qayyim mengalami salah persepsi, lantaran menyangka lutut onta berada di bagian kaki belakang. Padahal, berdasarkan kesepakatan Ulama lughah (bahasa), lutut binatang berkaki empat berada di bagian kaki depan. Hal ini seperti disampaikan oleh al Fairuz Abadi dan ulama lainnya. Syaikh Al-Albani juga pernah menyampaikan keterangan dalam dua kaset, dalam rangka mengkritisi perkataan Ibnul Qayyim berjudul Raf’usy Syukuk ‘An Haditsil Buruk.

Tentang cara duduk iftirasy dan duduk tawarruk, dalil-dalil tentang itu tidak banyak. Terkesan terdapat sedikit kontradiksi. Namun, ketika dicermati lebih lanjut, kami melihat bahwa duduk ifitirâsy dilakukan pada setiap rakaat kedua, meskipun rakaat itu merupakan raka’at terakhir (seperti dalam sholat Shubuh, misalnya, pent).

Sedangkan duduk tawarruk dilakukan di raka’at ketiga dalam sholat Maghrib, dan raka’at keempat di sholat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`.

Jadi, duduk tawarruk berlaku pada raka’at terakhir pada sholat yang berjumlah tiga raka’at dan empat raka’at. Sementara duduk ifitrâsy dikerjakan pada raka’at kurang dari itu, baik dalam sholat yang berjumlah dua rakaat atau di tasyahhud awal.

Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabi

Edisi 01 Tahun  XII  1429H – 2008M