Meluruskan Pemahaman Tentang Ilmu

0
209

Bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi Zionis Israil (Yahudi) dan Palestina. Apakah kita hanya menuntut ilmu saja tanpa berbuat apapun, atau bagaimana? Mohon penjelasan dari para masyayikh. Jazakumullahu khairan.

JAWAB:

Orang yang mengatakan “apakah kita hanya menuntut ilmu saja”, seolah-olah dia tidak menghormati kedudukan ilmu dengan sebenarnya. Dan seolah-olah dia tidak mengetahui, bahwa ilmu terhadap al Kitab dan as-Sunnah adalah merupakan asal (pokok).

Sesungguhnya jika kita mengatakan “ilmu”, maka maksudnya bukanlah ilmu teori akademis saja. Akan tetapi, yang kita maksudkan adalah ilmu yang mulia; ilmu yang dibangun di atas Kitab Allah dan Sunnah Rasul, ilmu yang tegak di atas amal shalih yang mendekatkan hamba kepada Allah. Dengan pemahaman kita terhadap ilmu dengan bentuk ini, akan menggugurkan pertanyaan di atas.

Maka bagaimana jika kita gabungkan dengan jawaban ini seluruh ceramah? Dengan dua bagiannya (yakni tasfiyah dan tarbiyah); kita tambahkan lagi dengan firman Allah Ta’ala:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ …(٥٥)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal- amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. (QS an-Nur/24:55).

Dengan pemahaman kita terhadap ayat yang mulia ini, ditambah dengan kedua ceramah di atas,[1] kita mengetahui jawabannya dan kita meyakini kebenarannya. Seketika itu gugurlah hubungan-hubungan palsu dan semangat yang merusak, sehingga al haq menjadi jelas, jauh dari kepalsuan-kepalsuan dan siasat-siasat yang membangkitkan akal para pemuda dan mendorong khayalan-khayalan mereka, tanpa kenyataan, yang mereka tidak memiliki penolong yang menolak (kenyataan buruk itu).

(Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 22 Muharram 1427 H / 10 Februari 2007 M).


[1]. Lihat ceramah masyayaikh di Masjid Istiqlal, Sabtu, 22 Muharram 1428 H / 10 Februari 2007 M, yang telah kami angkat pada Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M.

Edisi 02 Tahun  XI  1428H – 2007M

Pengunjung juga mencari :

  • pemahaman tentang ilmu