Bunuh Diri Termasuk Takdir

0
201

SOAL :

Ana meminta tolong dijelaskan masalah Qadha’ dan Qadar. Bagaimana dengan orang yang mati bunuh diri? Apakah Allah menakdirkan orang tersebut mati bunuh diri? Sukran.

Harno, Jakarta 08131823xxxx

JAWAB :

Qadar, secara bahasa artinya takdir (penentuan). Sedangkan qadha‘, secara bahasa artinya hukum (keputusan). Qadha‘ dan qadar adalah dua istilah. Jika keduanya berpisah, maka maknanya sama. Dan jika berkumpul, maknanya berbeda.

Jika disebut qadar Allah, maka semakna dengan qadha‘ Allah, dan begitu pula sebaliknya. Jika disebut bersama-sama, maka masing-masing memiliki makna yang berbeda, yaitu:

  • Qadar adalah, apa saja yang telah ditentukan Al- lah semenjak dahulu akan terjadi pada makhlukNya.
  • Qadha‘ adalah, apa saja yang Allah putuskan pada makhlukNya, berupa mewujudkan, meniadakan, atau merubah. Sehingga qadar mendahului qadha‘.[1] Allah berfirman:

    بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (١١٧)

    Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah,” lalu jadilah ia. (QS al Baqarah / 2 : 117).

Iman kepada qadar termasuk rukun iman ke enam. Iman seseorang rusak, jika tidak beriman kepada qadar.

Iman kepada qadar mencakup empat perkara. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, Firqah Najiyah (golongan yang selamat), Ahli Sunnah wal Jama’ah mengimani terhadap qadar yang baik dan yang buruk. Iman kepada qadar meliputi dua derajat, setiap satu derajat memuat dua perkara.

Derajat Pertama, beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui seluruh makhlukNya. Semua makhluk berbuat dengan pengetahuan Allah yang ada semenjak dahulu, yang Allah disifati dengan ilmu itu azali (semenjak dahulu ada) dan abadi (terus ada). Dan Dia mengetahui seluruh keadaan hamba, yang berupa ketaatan, kemaksiatan, rizki, dan ajal. Kemudian Allah menulis takdir-takdir seluruh makhluk di Lauhil Mahfuzh.

Derajat Kedua, beriman bahwa kehendak Allah pasti terjadi, dan kekuasaan Allah bersifat universal (menyeluruh, meliputi segala sesuatu). Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Tidak ada di langit dan di bumi, yang berupa gerakan dan diam, kecuali dengan kehendak Allah. Tidak terjadi di dalam kerajaanNya apa yang tidak Dia kehendaki. Bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dari segala yang ada dan segala yang tidak ada. Tidak ada satu makhluk di bumi dan di langit, kecuali Allah adalah penciptanya. Tidak ada pencipta selainNya, tidak ada Rabb (pemiliki, pengatur) selainNya. Bersamaan dengan itu, Dia memerintahkan hamba-hambaNya untuk mentaatiNya dan mentaati para rasulNya, dan melarang mereka dari bermaksiat kepadaNya. Sedangkan Dia (Allah) mencintai orang-orang yang bertakwa, orang- orang yang berbuat ihsan, orang-orang yang berbuat adil, dan meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai orang-orang fasiq. Dia juga tidak memerintahkan kekejian, dan tidak meridhai kekafiran untuk hamba-hambaNya. Dan Dia tidak mencintai kerusakan”. (Aqidah Wasithiyah).

Setelah mengetahui penjelasan di atas, maka kita dapat mengetahui, bahwa bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian manusia itu termasuk takdir Allah. Tetapi itu merupakan kemaksiatan yang dilarang dan dibenci oleh Allah. Sebagai peringatan bagi kita semua, dalam masalah qadar ini seharusnya kita mencukupkan dengan beriman, tanpa banyak memikirkannya dengan akal semata, karena akan menyeret kepada kebingungan dan kesesatan, sebagaimana telah melanda orang- orang Qadariyah. Dan qadar itu merupakan rahasia Allah yang tersembunyi. Wallahu a’lam.


[1]. Syarh Aqidah Wasithiyah, hlm. 442, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar Ibnil Haitsam.

Edisi 04 Tahun  X  1427H – 2006M

Pengunjung juga mencari :

  • takdir srbagai iman
  • takdir takdir takdir takdir