Apakah Perlu Belajar filsafat ?

0
403

SOAL :

Apakah diharamkan mempelajari ilmu filsafat secara mutlak atau masih ada perinciannya dalam masalah ini?. Kami mendengar dari salah seorang dosen bahwa ilmu filsafat terbagi menjadi empat: riyadhiyyat (ilmu hitung), thabi’iyyat (ilmu pengetahuan alam), Uluhiyyât (ilmu ketuhanan) dan Manthiq (ilmu logika). Sudah banyak orang memperoleh manfaat melalui keberadaan ilmu riyadhiyyât dan ilmu thabi’iyyat. Sebagaimana para ulama Ushul juga telah merasakan manfaat dari ilmu manthiq. Mohon dijelaskan?.

Jawab:

Ketika kami membicarakan tentang ilmu filsafat, ilmu jadal (metode perdebatan) dan ilmu manthiq secara mutlak, bukanlah ilmu riyadhiyat (ilmu hitung) atau ilmu thabi’iyyat (pengetahuan alam) yang kami maksudkan. Akan tetapi, ilmu-ilmu ‘aqliyyat murni yang dikaitkan dengan syariat. Baik dalam masalah uluhiyyat maupun masalah lainnya yang telah dipaparkan oleh syariat dan harus diketahui. Oleh karena itu, pembagian di atas, kami ingin mengatakan: apakah hasil (buah) di balik pembagian tersebut?. (Tidak ada, pent).

Saat ini saya jadi ingat ungkapan penulis as Sullam Fi ‘Ilmil Manthiq. Dalam qashidah ini, ia mengatakan tentang ilmu filsafat :

Ibnu Shalah dan Nawawi mengharamkannya, Sebagian orang berkata seharusnya dipelajari Pendapat yang shahih lagi kuat adalah Bolehnya perkara itu bagi orang yang ahli Yang telah mendalami Sunnah dan al Qur’an Supaya dapat petunjuk menuju kebenaran

Melalui bait-bait syair di atas, tampak sepertinya orang yang mendalami al Qur’an dan Sunnah belum mendapatkan hidayah menuju kebenaran. Belum dapat memperoleh hidayah kecuali dengan dukungan ilmu filsafat. Tidak demikian adanya!. Orang yang mendalami Sunnah tidak membutuhkan ilmu filsafat untuk menguasainya. Orang yang sudah mendalami Sunnah membutuhkan ilmu Ushul Fiqh, rumusan generasi Salaf dan ilmu musthalah hadits yang memuat ilmu riwayat, ilmu dirâyah dan ilmu ri’ayah.

Tentang ilmu Manthiq ini, memang Ibnu Taimiyyah mendalami dan menulis di dalamnya. Namun, dalam rangka membantah supaya bisa menyanggah kaum Manthiqiyyin melalui ilmu mereka. Beliau menyebutkan ini dalam muqadimah kitab Dar‘u tarudhil Aql bin Naql. (Bukan untuk mendukung ilmu ini dan merumuskan kaidah-kaidah begitu saja untuk memudahkan orang memahaminya, pent).

Ringkasnya, mempelajari ilmu filsafat dan manthiq bagi orang yang sudah mendalami al Qur’an dan Sunnah untuk mencari tahu tentang kekeliruan-kekeliruan ilmu tersebut dan untuk menconter orang-orang yang membelanya, kami berharap tidak mengapa. Akan tetapi, bila ada sangkaan bahwa mempelajari al Kitab dan as Sunnah tidak berhasil kecuali dengannya, ungkapan ini mengandung pertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ … (٩)

Sesungguhnya Al-Qur‘ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus …. (Qs al-Isra’ :9).

Wallahu a’lam.

Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabi

Edisi 01 Tahun  XII  1429H – 2008M

Pengunjung juga mencari :

  • filsafat
  • filsafat una