Apa Pedomanmu Dalam Beribadah Kepada Allah Ta’ala?

0
160

Diadaptasi dari Haqîqatu at-Tashawwuf, Syaikh Shâlih bin Fauzân bin ‘Abdullâh al-Fauzân hlm.9-13 dengan beberapa tambahan.

Seorang hamba wajib menghambakan dirinya kepada Allâh Ta’ala. Dalam proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabbnya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang
Ada enam pedoman dalam beribadah yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْفِيْقِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).
Para hamba wajib untuk hanya patuh terhadap ketentuan pemegang hak syariat saja, Allâh Ta’ala . Allâh Ta’ala berfirman:

“Maka, tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah melampaui batas” (QS. Hûd/11:112)
Bahkan Rasul kita Muhammad ﷺ pun wajib tunduk patuh terhadap aturan syariat yang Allâh gariskan kepada Beliau ﷺ . Allâh Ta’ala berfirman:

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS. Al-Jâtsiyah/45:18)
Dan Allâh Ta’alla telah berfirman tentang Nabi kita Muhammad ﷺ :

Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (QS. Al-Ahqâf/46:9).

Kedua: Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allâh Ta’alla , bersih dari noda-noda kesyirikan.
Allâh Ta’alla berfirman:

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya” (QS. Al-Kahfi/18:110).
Apabila ibadah terkontaminasi oleh unsur syirik dan tercampur dengannya, maka akan membatalkan dan membuyarkannya. Allâh Ta’alla berfirman setelah menyebutkan 18 rasul:

Seandainya mereka mempersekutukan Allâh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (QS. Al-An’âm/6:88)

Allâh Ta’alla juga berfirman:

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orng yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allâh saja kamu ibadahi dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az-Zumar/39:65-66)

Ketiga: Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasûlullâh Muhammad ﷺ .
Allâh Ta’alla berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allâh (QS. Al-Ahzâb/33:21)
Tentang ayat di atas, Imam Ibnu Katsîr berkata, “Ayat ini merupakan kaedah besar tentang (keharusan) mengikuti Rasûlullâh ﷺ dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya”.

Perkara-perkara yang Allâh k cintai untuk dijadikan ritual ibadah oleh umat manusia kepada Rabbnya hanya diketahui oleh Rasûlullâh Muhammad ﷺ yang bertindak sebagai utusan Allâh Ta’alla yang menjadi perantara antara Allâh Ta’alla dan hamba-hamba-Nya.
Ayat di atas (QS. Al-Ahzâb:21) sebenarnya sering kali disampaikan dalam acara-acara peringatan maulid Nabi ﷺ . Dalam acara peringatan yang tidak dibenarkan syariat Islam tersebut, memang penceramah juga menekankan untuk meneladani budi pekerti Rasulullah yang luhur semata. Sementara terkait urusan ibadah, jarang sekali atau tidak pernah disinggung bahwa kita pun wajib meneladani Beliau ﷺ dalam melaksanakan ibadah.

Dan lebih tegas lagi, Allâh Ta’alla berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah dia. Dan ada yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (QS. Al-Hasyr:7)

Nabi ﷺ menekankan agar mengikuti tata cara ibadah yang Beliau ﷺ ajarkan. Dalam tata cara shalat misalnya, Nabi ﷺ bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

Kerjakanlah shalat oleh kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat (Muttafaqun ‘alaih)

Tentang haji, Beliau ﷺ bersabda:

عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku manasik haji kalian (Muttafaqun ‘alaih)
Di sisi lain, Beliau ﷺ memperingatkan bahaya orang yang beribadah tanpa mengikuti petunjuk yang dibawa Beliau ﷺ . Beliau ﷺ bersabda:

عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka akan tertolak (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:

هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa mengadakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka akan tertolak (Muttafaqun ‘alaih)

Oleh sebab itu, orang-orang yang suka mengadakan perkara baru dalam urusan agama yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad ﷺ perlu menjawab pertanyaan berikut, “Apakah mereka lebih tahu tentang syariat daripada Nabi ﷺ ?!”. “Dan apakah mereka lebih paham tentang ajaran Islam daripada para Shahabat yang mengambil ajaran agama langsung dari utusan Allâh, Muhammad ﷺ ?!”

Empat: Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.

Semisal ibadah shalat, Allah Ta’alla berfirman:

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS. An-Nisâ`/4:103).

Dalam haji, Allâh Ta’alla berfirman:

Musim haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. (QS. Al-Baqarah/2:197)

Sedangkan tentang puasa, Allâh Ta’alla berfirman:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di neger tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu. (QS. Al-Baqarah/2:185)

Kelima: Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allâh Ta’alla , dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut) ar-rajâ (pengharapan) kepada-Nya

Allâh Ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Jika kamu benar-benar mencintai Allâh, maka ikutilah aku, niscaya Allâh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali ‘Imrân/3:31)
Di sini, Allâh Ta’alla menyebutkan tanda cinta kepada Allâh Ta’alla dan dampak positifnya. Tandanya adalah mengikuti Rasûlullâh Muhammad. Adapun, buahnya ialah memperoleh cinta dari Allâh Ta’alla , ampunan atas dosa-dosa dan rahmat dari-Nya.
Allâh Ta’alla berfirman:

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allâh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) di takuti. (QS. Al-Isrâ`/17:57)

Keenam: Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan kehidupan dunianya.

Allâh Ta’alla berfirman:

Dan beribadahlah kepada Allâh sampai datang kepadam yang diyakini (ajal) (QS. Al-Hijr/15:99).

Sâlim bin ‘Abdillâh bin ‘Umar, Mujâhid, Qatâdah dan Ulama tafsir lainnya menyatakan bahwa maksud al-yaqîn dalam ayat adalah kematian.
Karena itu, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (II/579) mengatakan, “Dari ayat ini disimpulkan bahwa ibadah seperti shalat dan ibadah lainnya, wajib dilakukan selamanya selama akal masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu”.
Kemudian beliau juga menilai sebagai bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan kepada orang yang berpandangan seseorang akan bebas dari beban taklif (tidak dikenai kewajiban ibadah) bila telah sampai pada derajat ma’rifah. Beliau mengungkapkan fakta bahwa para nabi dan shahabat-shabahat mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allâh dan mengetahui hak-hak dan sifat-sifat-Nya. Dan mereka adalah orang yang paling banyak beribadah dan istiqomah untuk melakukan amal kebaikan sampai wafat. Wallâhu a’lam.

Pengunjung juga mencari :

  • contoh para utusan Alloh cara ngibadahnya kepada Alloh
  • siapa yg harusdi ikuti dalam beribadah